Sejarah

SEJARAH SMA KATOLIK MAKASSAR

  1. SMA Katolik Makassar didirikan pada tanggal 1 Agustus 1951 oleh MGR N.M Scheiders Vikaris Apostolik Makassar pada waktu itu bersama-sama dengan para pastor C.I.C.M serta berlokasi di jalan Thamrin No. 5-7. Mula-mula dibuka dua jurusan yaitu bahagian A (bahasa) bahagian B (eksakta). Sebagai Direktur yang pertama diangkat pastor DR.G.Giezenaar. Siswa-siswa pada waktu itu masih sangat terbatas pada golongan menengah ke atas dan umumnya mereka masih merupakan pelajar-pelajar dari zaman NIT (pendidikan kolonial) misalnya Mulo, MS bahkan ada juga dari HBS underbouw. Dapat dikatakan banyak diantara pelajar-pelajar ini masih berbahasa Belanda baik di rumah maupun di sekolah (bukan dalam pelajaran) ; dasar pendidikan menengah mereka memang baik sehingga tidak mengherankan lulusan pertama pada tahun 1954 hasilnya baik sekali, oleh sebab itu pada tahun yang sa,a pemerintah c.q Kementrian PPK memberikan bantuan berupa subsidi penuh pada sekolah ini, dengan demikian menjadilah SMA Katolik bersubsidi Makassar.
    Pada tahun yang sama Yayasan Joseph Rajawali minta agar mereka dapat membuka cabang SMA. Sejak itu berdirilah SMA Katolik cabang Rajawali, mulai hanya dengan satu jurusan ialah bahagian C khusus puteri, lalu bahagian A (bahasa) pada tahun 1956. Dengan demikian sejak tahun 1954, SMA Katolik Makassar menjadi SMA yang lengkap dengan semua jurusan (A,B,C)
  2. Tentang Guru-Guru Pelopor
    Untuk mengenang guru-guru yang telah memulai SMA Katolik maka dibawah ini dicantumkan nama-nama tersebut.

    1. Mgr. N.M. Schneiders(+) guru Mekanika, Astronomi dan Ilmu Pasti
    2. DR.Giezener (+) Ilmu Sejarah
    3. Pastor DR. F van Roessel (+) Ilmu Ekonomi (kemudian menjadi Uskup Agung yang ke III di Makassar)
    4. Pastor G.Menting (+) guru Fisika dan Bahasa Jerman
    5. Pastor A.Verschure guru Bahasa Inggris
    6. Pastor L. Ploegmakers (+) guru Ilmu Pasti (mate-matika)
    7. Pastor K. Noldus (+) Tata Buku / Hitung Dagang dan Bahasa Inggris
    8. Pastor R. Leleu (+) guru ilmu kimia dan biologi
    9. Pastor J.Gerrits guru menggambar
    10. Pastor C.v.d Meerendonk (+) guru bahasa Perancis dan Filsafat (khususnya untuk jurusan A)
    11. Guru-guru yang bukan pastor J.C Pangkerego dan Lahanduitan adalah guru bahasa Indonesia, keduanya kemudian diganti oleh C Salombe (sekarang Prof C. Salombe).
      Di cabang SMA Rajawali guru-guru pelopor ialah : Zuster Alfonz (L.M.C.v.d Linden) dan Zuster Berdini (BBMJ de Leeuw). Zuster Alfons guru bahasa Jerman dan bahasa Indonesia sedangkan Zuster Berdini adalah guru bahasa Inggris, Aljabar serta Hitung Dagang/Tata Buku : Guru yang bukan Zuster adalah Lely Nio.
      Perlu dicatat bahwa baik bahagian B maupun bahagian A SMA Katolik Makassar pada awalnya masih mengacu pada program pengajaran Gymnasium di Belanda terlihat dari buku-buku pegangan, namun tidak menyimpang dari program nasional.
      Pada tahun 1962 pemerintah mengganti sistem di SMA yang disebut SMA gaya baru dari tiga jurusan A, B, dan C menjadi umum untuk kelas 1 dan lalu dikelas II dibagi dalam 4 jurusan yaitu PAS (Pasti, Alam) PAL (Ilmu Alam), PAL (Ilmu Alam, Biologi) SOS (sosial, ekonomi) serta BUD (Bahasa dan Budaya). Akhir dari gaya lama (SMA A, B dan C) terjadi tahun 1964, saya dapat sebutkan bahwa Ir. Erna Witoelar mantan Menteri Menkumpraswil adalah lulusan terakhir bahagian B SMA Katolik Makassar.
  3. Kepala Sekolah
    Tahun 1951-1955 : Pastor DR.G. Giezenaar CICM
      Karena alasan kesehatan kembali ke Belanda
    Tahun 1955-1957  : Pastor L. Ploegmakers (Pejabat)
    Tahun 1957-1959 : Bapak C. Salombe, sekarang Prof DR.C. Salombe
    Tahun 1959 (Agt-Dec) : Kembali dijabat oleh pastor L. Ploegmakers karena Pak Salombe
      mendapat tugas belajar untuk tingkat sarjana di UGM

                                           
    Tahun 1960 (Januari) hingga Desember 1991 kepala sekolah adalah E.C. Runtu yang mula-mula diangkat dengan SK Yayasan Paulus hingga 1964 lalu dilanjutkan dengan peningkatan oleh Departemen (Kementerian) PKK sebagai Kepala Sekolah definitif hingga pensiun.
    Kepala Sekolah mulai tahun 1992 hingga sekarang sebagai berikut :

    1. Drs. N. Wonghar lamanya 1  ½  tahun
    2. Drs. S.T Barra lamanya 3 tahun
    3. C.P. Tukunang lamanya 2 tahun
    4. Drs. A.R Sulo lamanya 1 ½ tahun
    5. Pastor A. Lamere lamanya 3 bulan
    6. Pastor DR. John Turing
    7.   
      Catatan : Sejak tahun 1960 kepala sekolah didampingi oleh seorang pastor sebagai moderator SMA.
      1960 – 1967 moderator Pastor K.Noldus
      1967 – 1974  moderator Pastor G. Schie
  4. Pengembangan dan Perluasan SMA Katolik Makassar setelah pindah dari Jln.Thamrin ke Jln. Cenderawasih pada tahun 1958. Mulai tahun 1960 dibawah pimpinan Kepala Sekolah E.C. Runtu dan Moderator Pastor K. Noldus maka sekolah ini dikembangkan dengan menambah kelas, tetapi tetap menjaga mutu pengajaran sambil mengacu pada ungkapan  kuno : Non Scholae Sea Vitae Discimus, artinya kurang lebih demikian :  Bersekolah bukan untuk memperoleh angka atau sertifikat melainkan untuk hidup. ( Uskup Agung I KAMS, Mgr NM Schneiders cicm) penerimaan siswa pun sangat memasyarakatkan dan terdiri dari beragam lapisan dan golongan dan sesungguhnya sekalipun istilah option for the poor ketika itu belum populer namun dalam penerimaan siswa baik dilihat dari segi ekonomi maupun dari segi akademis tetapi berbakat, maka mendapat pertimbangan untuk diterima. Ternyata bahwa mereka yang tamat tahun 60 an banyak yang menduduki posisi penting dalam masyarakat, dari pemerintahan, Pati TNI dan Polri, Akademisi, Dokter, Insinyur, serta pengusaha, bahkan seorang luaran 1960 yang mendapat beasiswa dari Colomboplan kemudian menjadi anggota ilmuwan di NASA – USA. Di atas telah disebutkan seorang menteri yang luaran SMA Katolik 1964.
    Diantara mereka yang menduduki posisi tinggi beberapa berasal dari keluarga sederhana; yang pernah di NASA misalnya dan beberapa perwira tinggi TNI atau Polri berasal dari keluarga sederhana atau keluarga guru dan PNS.
    Setelah perubahan sistem dari gaya lama ke gaya baru maka perkembangan SMA Katolik Makassar cukup pesat, siswa menjadi lipat dua. Di era orde lama ketika  Menteri PPK Prijono, diintrodusirlah 3 pengembangan (wajib) bagi siswa-siswa yang dikenal dengan 3 U.H : Using Head, Using Heart, Using Hands ini berlanjut sampai ke penggantian menteri PPK Mashuri S.H. Perubahan kurikulum pun terjadi pada tahun 1968; 4 jurusan menjadi 3 jurusan ialah Paspal (Eksakta)  Sos (Sosial Ekonomi) dan Bud (Budaya dan Bahasa). Ide pengembangan tetap sama  dengan klasifikasi sebgai berikut : pengembangan ilmu-ilmu Eksakta, pengembangan ilmu-ilmu Bahasa, pengembangan ilmu-ilmu Humaniora serta pengembangan keterampilan (skill) yang mengacu pada 3 UH. Bertahun-tahun lamanya program ini dijalankan sambil satu demi satu dilengkapi laboratorium sebagai penunjang bidang studi, terutama pengajaran ilmu eksakta. Di era tahun 70 an pada sebuah brosur edaran dari kongregasi suci Vatikan tentang edukasi berisi bagaimana serta bagaiman adanya pendidikan untuk mengangkat martabat manusia terutama kaum remaja serta bagaimana kita menghargai semua aneka potensi yang ada pada manusia, upaya pembenaran atas apa saja yang berdaya guna serta berhasil guna dalam kemandirian seseorang : terdapat istilah : Raison d’ etre (justification for anything) ; ya memanusiakan manusia, inilah ungkapan yang tepat, kata mendiang Uskup Agung KAMS Mgr DR. Th Lumanauw menjelaskan. Sesungguhnya telah terjadi pergantian Uskup, karena meninggalnya Mgr. Th Lumanauw namun penggantinya ialah Mgr DR. F Van Roessel tetap concern dengan usaha ini sebagai nilai tambah serta daya tarik bagi SMA Katolik.
    Untuk menjawab gagasan-gagasan tersebut diatas, maka mulailah dibentuk beberapa workshop misalnya ws, elektronika, mengetik dan khusus untuk putri diselenggarakan tata boga dan tata usaha (PKK). Untuk peralatan elektronika dan mesin-mesin ketik diperoleh bantuan dari Cebemo sedangkan untuk PKK dari Katholieke Vrouwen Vereniging, kedua badan itu ada di Belanda.
    Adalah almarhum Pastor Denissen Sekretaris Keuskupan Agung yang amat berjasa dalam pengembangan keterampilan ini, terutama perolehan dana dari luar negeri. Bukan itu saja, pada permulaan tahun 70 an Pastor Denissen yang juga melayani Umat Katolik di daerah Mandi menemui beberapa perwira TNI AU yang Katolik atau yang istrinya Katolik minta untuk membentuk bengkel elektronik ; dapat disebutkan misalnya mayor udara Soetrisno bidang elektronik. Beliau inilah dengan dibantu oleh beberapa perwira rekannya secara teratur 3-4 kali seminggu pada sore hari memimpin ws ini, sedang PKK dipimpin oleh guru-guru SGKP, lalu dengan diselenggarakannya ekstra kurikuler olahraga dan kesenian, maka lengkaplah sudah pembinaan dan pendidikan bagi pengembangan generasi muda. Pada masa Uskup Agung III KAMS Mgr DR. F. Van Roessel sudah direncanakan pendirian bengkel otomotif, juga penggantian alat-alat elektronik yang sudah tua. Tentang pendirian bengkel otomotif yang direncanakan berlokasi di Jogaya batal karena lahan yang hendak digunakan akan dimanfaatkan oleh pemiliknya yaitu Yayasan Lontara. Mengenai pencarian dana untuk mensponsori pengadaan alat ws yang lebih modern maka berkat usaha dari Pastor Frank Bahrun, SMA Katolik (Yayasan Paulus) mendapat bantuan uang $ 15.000,- dari Benevolentia. Hampir bertepatan dengan selesainya masa bakti saya sebagai Ketua Yayasan, tibalah bantuan itu. Pengurus yang baru tentu yang akan mengelolanya. Kebetulan bendahara yayasan tidak diganti karena yang bersangkutan juga ekonom KAMS. Sebelumnya sang bendahara ini dengan alasan : perintah dari Uskup bernegoisasi dengan Direktur Bank Buana dan mensuplai 30 unit komputer yang ternyata komputer sudah kadaluarsa. Masih tergiang di telangku : Pak Runtu, Uskup sudah sudah mendesak agar supaya segera diberikan komputer di SMA untuk meningkatkan suatu pelajaran. Hebatkan, simple logic : berikan komputer (bekas) supaya mutu pengajaran meningkat.
    Dengan alasan sudah ada komputer maka dengan sendirinya ws elektronika dilukuidasi. Tujuannya sangat jelas ialah supaya siswa diarahkan ke komputer yang dijadikan bisnis oleh yang bersangkutan dan bukan dari sekolah atau yayasan. Tetapi tujuan yang lebih hebat ialah $15.000, tidak ada keterangan sedikitpun mengenai hal ini. Melikuidasi ws elektronika dan menyalahgunakan uang bantuan luar negeri adalah suatu kejahatan pendidikan yang luar biasa, suatu kejahatan tak pernah kadaluarsa, jadi harus diusut sebagai “Benevolentiagate”.